Mobile Site

Film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’, Karya Seni Penuh Misteri

Movie 7 View

Film-‘Pengkhianatan-G30SPKI’,-Karya-Seni-Penuh-Misteri

Kabarmaya.co.idGenerasi yang besar di era 1990-an mungkin sudah familiar dengan sebuah film yang bercerita tentang penumpasan G30S/PKI garapan sutradara ternama Indonesia Arifin C Noer. Film ‘Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI’ (1984) memang berisi gambaran bagaimana peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) terjadi.

Dalam film tersebut terdapat salah satu adegan dimana putri DI Panjaitan membasuh wajahnya dengan darah sang ayah yang mati ditembak senapan tentara yang datang kerumah mereka. Adegan ini tentu saja menjadi adegan yang akan sulit dilupakan oleh siapapun orang yang sudah menontonnya.

Selain itu beberapa dialog yang berasal dari film ini juga masih terngiang hingga sekarang, misalnya saja kutipan, “Darah itu merah, jenderal”. Kutipan ini keluar saat adegan penyiksaan terhadap tujuh jenderal Pahlawan Revolusi yang terjadi di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Ada juga kalimat, “Jawa adalah kunci!”. Jika sudah pernah melihat film ini pasti masih terngiang-ngiang kalimat ini dan terbayang adegan rapat-rapat yang dilakukan PKI. Hawa serius dalam ruangan yang dipenuhi asap rokok begitu terasa.

Film yang dibuat pada pemerintahan Presiden Soeharto ini secara garis besar menggambarkan tentang situasi negara yang kacau balau akibat “pemberontakan PKI” yang terjadi pada tahun 1965. Film penuh misteri ini tentu saja menuai pro dan kontra. Sebagian orang dengan butanya percaya begitu saja dengan semua adegan dan kisah yang disajikan. Namun, sebagian lain juga ada yang meragukan cerita yang ditampilkan sama dengan yang terjadi pasa saat itu.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, film lawas ini memang menyuguhkan sebuah sinematografi apik serta seni peran yang mumpuni. Selain itu, efek suara dan suara yang mencekam menambah tergambarnya suasana mencekam yang terjadi saat itu.

Terkait dengan karya ini, Bayu Prihantoro Filemon yang juga merupakan salah satu sinematrografi dan sutradara film ‘The Origin of Fear’ (2016) ikut membagikan pandangannya. Bayu menuturkan, film ini lebih menyerupai film horor karena efek suara serta beberapa adegan kekerasan yang ada.

Bayu juga menambahakn jika film yang merupakan proyek pemerintah ini mampu mewujudkan realitas film menjadi realitas nyata. Ia bahkan menyebut film ini sebagai pseudomemory sejarah bangsa. Menurutnya meski maih terdapat beberapa kekurangan di berbagai sisi, namun hal tersebut sudah berhasil dicapai.

“Dari sisi teknis, termasuk perihal efek suara, kualitas akting, sudut pengambilan gambar, dan musik, film Pak Arifin tersebut tentu saja tetap ada kekurangannya,” kata Bayu.

“Saya tumbuh dengan bahasa-bahasa film yang lebih modern dibandingkan dengan apa yang ada di film tersebut,” ujar Bayu, sutradara yang sekaligus juga berprofesi sebagai dosen ini.

Film ‘Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI’ (1984) merupakan sebuah film proyek pemerintah yang hingga tahun 1998 menjadi tontonan wajib dan disiarkan di saluran televisi nasional Indonesia dan beberapa bioskop. Tak heran jika pesan yang ingin disampaikan film ini sudah melekat di ingatan para penonton yang kebanyakan merupakan generasi yang besar di era akhir ’80-an dan periode ’90-an.

Pendapat Bayu Prihantoro Filemon, film ‘Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI’ ini memang akan sangat berdampak pada kehidupan masyarakat di masa yang akan datang. Ia mengaku khawatir jika ketakutan yang disebar sejak pemerintahan Soeharto tersebut akan terus berulang setiap 30 September datang. Tentu ini akan berdampak ke bagaimana kehidupan berdemokrasi negara bisa dipahami dan diejawantahkan.

Loading...
@ Copyright 2016 - 2018 Kabarmaya.co.id