Mobile Site

Menganal Ketindihan Atau Sleep Paralysis Menurut Medis

Kesehatan 17 View

Menganal-Ketindihan-Atau-Sleep-Paralysis-Menurut-Medis

(sumber gambar: youtube.com)

Kabarmaya.co.idPernahkah kamu merasa seluruh tubuh lumpuh saat hendak tidur atau terbangun dari tidur? Atau pernahkah kamu merasa dada begitu sesak saat sedang tertidur? Jika iya, berarti kamu sedang mengalami ketindiha  atau yang dalam bahasa medisnya disebut sleep paralysis. Sekarang ini masih banyak mitos yang berkembang tentang ketindihan saat tidur. Salah satu mitos yang terkenal adalah ketindihan disebabkan oleh gangguan jin atau makhluk halus yang gentayangan. Tapi ternyata kejadian ini merupakan peristiwa unik yang diakui oleh ilmu medis.

Sleep paralysis merupakan salah satu jenis parasomnia, sekumpulan gangguan tidur yang menyebabkan suatu kejadian atau pengalaman yang tidak diinginkan terjadi saat baru tertidur, terlelap, dan saat terbangun dari tidur. Perlu diketahui bahwa hal ini umum terjadi dan tidak terkait penyakit kejiwaan tertentu. Fenomena ketindihan ini tidak berbahaya dan akan berakhir setelah beberapa detik atau beberapa menit.

Banyaknya mitos yang muncul seputar sleep paralysis karena fenomena ini membuat berhalusinasi melihat bayangan hitam yang dianggap sebagai sosok makhluk halus. Padahal sleep paralysis sebenarnya terjadi saat mekanisme otak dan tubuh terjadi tumpang tindih, tidak berjalan selaras saat tidur sehingga menyebabkan orang tersentak bangun di tengah siklus REM. Saat kamu terbangun sebelum siklus REM usai, otak belum siap untuk mengirimkan sinyal bangun sehingga tubuh masih dikondisikan dalam setengah tidur setengah sadar. Maka dari itu kamu akan merasakan tubuh kaku, sulit bernapas, tidak bisa berbicara, dan masih dalam pikiran yang mengawang saat ‘ketindihan’.

Sebuah studi menyebutkan bahwa sensasi kewalahan dan panik dari rentetan pengalaman sensoris tersebut cenderung membuat seseorang merasa semakin tertekan, terlebih lagi ketika mereka sudah lebih dulu percaya bahwa fenomena sleep paralysis terjadi karena faktor supranatural. Inilah yang membuat pengalaman ketindihan saat tidur menurut sebagian orang menjadi suatu pengalaman yang mengerikan. Studi yang sama menyebutkan bahwa orang yang cenderung berpikir logis malah tidak mengalami trauma berarti setelah pulih dari kelumpuhan tidur.

‘Ketindihan’ bisa jadi faktor genetik, namun terdapat sejumlah faktor lain yang mungkin terkait dengan fenomena ini seperti waktu tidur yang berantakan, terlalu banyak begadang, stress, posisi tidur telentang, gangguan bipolar, atau gangguan tidur lainnya. Sleep paralysis juga bisa menjadi efek samping dari konsumsi obat tertentu atau penyalahgunaan narkotika.

Loading...
@ Copyright 2016 - 2018 Kabarmaya.co.id