Mobile Site

Infeksi Vagina: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Kesehatan 81 View

 

Vagina termasuk area tubuh yang paling sering lembab & dipenuhi mikroba sehingga mudah terkena infeksi. Bahkan, para ahli mengatakan kalau setiap wanita pasti akan/pernah mengalami infeksi vagina. Tapi, kalian para wanita tak perlu khawatir selama bisa menjaga kebersihan Miss V.

 

Pengertian Infeksi Vagina

Infeksi yang terjadi pada area intim ini disebut vaginitis, yaitu peradangan pada Miss V karena ragi, parasit, jamur, atau bakteri di area kewanitaan. Infeksi ini dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja, tapi kebanyakan wanita di usia remaja sampai 40-an.

 

Sebenarnya, ada banyak mikroorganisme yang dapat menginfeksi Miss V. Berikut 3 jenis infeksi yang paling kerap terjadi pada area kewanitaan:

  1. Vaginosis bakteri

Infeksi ini terjadi akibat jumlah bakteri baik di vagina lebih sedikit dibanding bakteri jahat seperti Gardnerella.

  1. Infeksi ragi

Pada kasus ini, infeksi pada Miss V ini disebabkan oleh jamur candida, terkhusus Candida albicans.

  1. Vaginitis trikomoniasis

Ini adalah satu-satunya infeksi pada Miss V yang hanya bisa terjadi atau ditularkan melalui hubungan seksual.

 

Tanda-tanda/Gejala Infeksi Vagina

Meski mikroorganisme yang menyebabkan vagina infeksi bermacam-macam, ada kemiripan antara gejala satu dengan gejala yang lainnya. Beberapa tanda infeksi pada vagina yang perlu kalian waspadai adalah sebagai berikut:

  • Vagina terasa tidak nyaman, iritasi, nyeri, panas, atau gatal
  • Panas atau nyeri ketika buang air kecil
  • Kulit di area Miss V terlihat membengkak atau memerah
  • Ada bercak darah saat tidak menstruasi
  • Cairan yang keluar dari Miss V menjadi lebih banyak, terlihat kehijauan, atau bahkan berbau tidak sedap

 

Wanita yang mengalami infeksi di area kewanitaan bisa mengalami satu gejala saja atau lebih. Jika kalian mengalami salah satu gejala yang sudah disebutkan di atas dan tidak segera membaik setelah beberapa hari, jangan tunda untuk berkonsultasi ke dokter agar diperiksa dan mendapatkan penanganan yang tepat sehingga kondisi tidak semakin memburuk.

 

Faktor Penyebab Infeksi Vagina

Vagina merupakan rumah bagi puluhan spesies ragi, jamur, dan bakteri. Saat kondisi area intim tersebut sehat, semua mikroorganisme ini hidup dalam jumlah seimbang dan tidak mengakibatkan masalah.

 

Tapi, kadang keseimangan mikroorganisme terganggu tanpa alasan yang jelas. Jika hal ini terjadi, jamur atau bakteri yang merugikan bisa tumbuh berlebihan. Lalu, terjadilah infeksi vagina.

 

Orang yang aktif berhubungan badan & gonta-ganti pasangan punya resiko vaginitis yang lebih besar. Bukan hanya itu saja, penggunaan produk pembersih Miss V seperti vaginal spray & douche juga dapat mengganggu keseimbangan mikroba vagina.

 

Dalam produk pembersih kewanitaan seperti sabun kewanitaan, douche, dan vaginal spray, bahan kimia yang terkandung di dalamnya bisa membunuh bakteri baik di dalam Miss V. Jika ini terjadi, bakteri jahat semakin tumbuh subur & mengakibatkan radang di area kewanitaan.

 

Lebih dari itu, kebiasaan memakai celana dalam ketat juga bisa membuat kulit di area vagina lebih lembab. Padahal, bakteri sangat suka lingkungan yang hangat & lembab seperti vagina. Kebiasaan ini tanpa disadari bisa meningkatkan resiko vaginitis.

 

Apakah Infeksi Vagina Berbahaya?

Vaginitis yang disebabkan candida sebenarnya tidak berbahaya. Tapi jika tidak ditangani, kondisinya bisa tambah parah sehingga mengakibatkan rasa gatal, kemerah-merahan, radang, atau kondisi yang lebih parah lagi.

 

Kebiasaan menggaruk area kewanitaan bisa membuat kulit di sekitar Miss V pecah-pecah & lecet. Miss V pun jadi lebih rawan terserang infeksi. Miss V yang terkena infeksi akan terasa perih & nyeri. Aktivitas pun pasti akan terganggu.

 

Biasanya, vaginitis ringan akan sembuh dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan. Tapi jika kalian mengalami vaginitis, bukan berarti kalian boleh cuek. Penting untuk segera memberitahu orang tua atau memeriksakan diri ke dokter.

 

Bagaimana Cara Mengobatinya?

Ada beberapa jenis pengobatan yang bisa diberikan dokter untuk mengatasi infeksi jamur pada Miss V, antara lain:

  • Obat anti-jamur minum. Misalnya adalah itraconazole dan fluconazole.
  • Obat anti-jamur oles berbentuk krim, tablet, cairan, atau salep seperti asam borat, sulfanilamide, nystatin, clotrimazole, dan miconazole.
  • Obat antihistamin yang berfungsi mengurangi rasa gatal pada Miss V.

 

Baik diminum ataupun diolesh, obat anti-jamur mungkin harus digunakan sampai berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, meskipun gejalanya telah membaik. Tujuannya adalah untuk memastikan jamur penyebab infeksi benar-benar hilang. Obat antihistamin bisa dihentikan jika keluhan gatal sudah membaik. Untuk memastikan infeksi jamur pada vagina sudah benar-benar sembuh atau belum, ada baiknya untuk konsultasi ke dokter.

 

Bagaimanapun juga, pencegahan selalu lebih baik. Untuk mencegah terjadinya infeksi vagina, ada beberapa upaya yang bisa kalian lakukan. Kuncinya adalah selalu menjaga kesehatan organ reproduksi agar terhindar dari infeksi pada area Miss V. Jangan lupa juga untuk selalu membersihkan vagina dengan air bersih, mengganti pembalut setiap 3-4 jam, serta tidak memakai celana dalam ketat untuk mengurangi kelembaban.

 

Loading...
@ Copyright 2016 - 2018 Kabarmaya.co.id